NASIHAT DAN KRITIK DENGAN KASIH

Eka Satria – Katekis Paroki St. Paulus Juanda
Jumat, 4 September 2026
17 views
NASIHAT DAN KRITIK DENGAN KASIH

Dari Injil Matius tentang “Nasihat kepada orang yang berdosa”. Tuhan Yesus ingin menyampaikan sebuah pesan bagi kita, untuk kita mampu terbuka kepada sesama kita bahwa “Nasihat” itu memiliki kuasa yang memulihkan diri kita dari dosa atau kesalahan yang kita miliki. Seperti halnya kita umat beriman saat memasuki bilik pengakuan dosa dan mengaku dosa kepada romo. Seorang romo bertindak atas pribadi Kristus memberikan secuil nasihat kepada kita umat beriman yang sedang mengaku dosa, dan setelah itu memberikan penitensi sebagai denda ataupun nasihat yang harus kita lakukan untuk menebus dosa itu .

REMPA (Renungan Mingguan Paulus) – Memasuki bulan kitab suci ini rasa-rasanya membuat kita semua umat beriman diajak untuk mengenal, mendalami, menghayati, dan menghidupi pewartaan Kerajaan Allah melalui sabda-Nya yang hidup. Berbagai pengalaman hidup yang sudah terlewati, tentang iman dan wujud hidup iman kita kepada Allah itu masih berlanjut sampai kapanpun. Hari yang penuh dengan pengharapan dan kasih membuat kita semakin menyadari bahwa “Iman” yang kita miliki sungguh “Hidup” oleh karena Kristus tinggal di kedalaman hati kita. Yesus Kristus selalu mengajak kita semua untuk belajar memaknai cinta kasih Allah itu lewat segala aspek hidup yang kita jalani. Maka dengan memasuki bulan kitab suci ini, marilah kita semakin bertumbuh lewat Sabda Allah, sehingga kehidupan kita menjadi makna yang terkenang hingga selamanya.

Hari ini kita belajar dari Injil Matius tentang “Nasihat kepada orang yang berdosa”. Tuhan Yesus ingin menyampaikan sebuah pesan bagi kita, untuk kita mampu terbuka kepada sesama kita bahwa “Nasihat” itu memiliki kuasa yang memulihkan diri kita dari dosa atau kesalahan yang kita miliki. Seperti halnya kita umat beriman saat memasuki bilik pengakuan dosa dan mengaku dosa kepada romo. Seorang romo bertindak atas pribadi Kristus memberikan secuil nasihat kepada kita umat beriman yang sedang mengaku dosa, dan setelah itu memberikan penitensi sebagai denda ataupun nasihat yang harus kita lakukan untuk menebus dosa itu.

Apakah nasihat atau kritik itu membuat kita semakin menyadari bahwa pentingnya kesadaran diri secara penuh terhadap apapun yang kita lakukan? Apakah nasihat dan kritik itu hanya lewat terlintas dalam panca indera kita, sehingga kita lebih mudah melupakan ajaran yang Kristus suarakan setiap waktu dalam hidup kita? Atau apakah kita lebih seringkali malas mendengarkan sebuah nasihat-nasihat atau kritik-kritik orang lain yang berbeda pendapat dengan diri kita? Bukankah suara Tuhan bisa hidup melalui suara setiap orang dari kita? Entah itu seorang anak kecil atau bahkan seorang yang lebih tua. Disinilah kedewasaan kita dalam iman itu dituntut untuk “Mendengarkan” orang lain sebagai sarana kasih Allah yang hidup melalui sesama kita. apakah kita sebagai umat beriman masih sebenci itu mendengarkan sebuah nasihat atau kritikan dari seseorang yang peduli dengan keadaan kita? Atau apakah kita saling sadar bahwa orang yang menasihati adalah sesama orang berdosa, lalu kita meremehkannya secara tidak langsung?

 

Sabda “Nasihat” versi Yesus Kristus yang penuh Kasih

Prinsip peneguran Yesus bertahap dalam Matius 18:15–17 mengajarkan bahwa memberikan “Nasihat dan Kritik” dengan penuh kasih selalu memberi kesempatan bagi seseorang untuk bertobat dan pulih, bukan hanya memberikan hukuman. Kata-Nya “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Dalam kehidupan bersama sebagai umat Paroki St. Paulus Juanda ayat dari Matius 18:15–17 ini mengingatkan kita bahwa nasihat dan kritik di dalam persekutuan meng-Gereja, baik di tingkat paroki, wilayah, lingkungan, maupun keluarga, hendaknya selalu berakar pada semangat kasih yang menyelamatkan, bukan penghakiman yang membinasakan. Tahapan yang diajarkan Kristus, yang dimulai dari teguran pribadi bawah empat mata hingga keterlibatan komunitas umat, menegaskan pentingnya menjaga martabat sesama serta kerahasiaan sebelum suatu persoalan diperbesar. Ketika kita berani menegur saudara yang bersalah secara santun dan tulus di lingkungan atau keluarga, kita sedang menjalankan tanggung jawab pastoral untuk memulihkan persekutuan dan membawa saudara kita kembali ke jalan Kristus. Sikap tegas yang akhirnya diambil terhadap mereka yang menolak mendengarkan sesama umat beriman pun bukanlah bentuk kebencian, melainkan batas kasih yang bijaksana agar kesucian persekutuan tetap terjaga, sekaligus panggilan bagi kita untuk terus mendoakan mereka sebagaimana Kristus merangkul para pemungut cukai dengan belas kasih-Nya.

Tuhan Yesus Kristus menghendaki agar kita menghidupi hukum kasih, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia (Mat. 22:37- 39). Hal inilah yang mendasari hukum yang seharusnya diwujudkan dalam kehidupan kita bersama, sehingga kehidupan ini mencerminkan citra Allah yang kontekstual. Lalu pertanyaannya, apakah kita masih mau hidup bersama dengan cinta kasih secara penuh dalam perwujudan martabat manusia dan kesejahteraan bersama sebagai mahluk ciptaan Tuhan? Jika iya, mari kita ubah cara hidup lama kita untuk menjadi manusia yang penuh cinta kasih dan mau mendengarkan suara Tuhan serta suara sesama kita melalui “Nasihat atau Kritik” yang kita terima.

 

Belajar dari Pertobatan Paulus dalam Mendengarkan Suara Tuhan

Kisah pertobatan Saulus dalam Kisah Para Rasul 9:1-19 memperlihatkan betapa dahsyatnya rahmat Tuhan yang sanggup mengubah jalan hidup seseorang. Saulus, yang awalnya penuh amarah dan giat mengejar serta menganiaya pengikut Kristus, mendadak dihentikan oleh cahaya ilahi di tengah perjalanannya menuju Damsyik. Ketika mendengar suara Tuhan: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4), hatinya yang keras seketika dilunakkan. Pengalaman ini membuktikan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, dan tidak ada hati yang terlalu keras untuk diubah oleh kasih Allah. Melalui peristiwa ini, Paulus yang dulunya seorang pendosa hebat justru dipilih Tuhan untuk menjadi bejana pilihan-Nya, seorang pewarta sabda Allah yang sejati untuk membawa nama Kristus ke hadapan bangsa-bangsa lain.

Kunci utama perubahan hidup Paulus terletak pada kerendahan hatinya untuk mau mendengarkan nasihat dan kritik dari Yesus Kristus yang bersabda langsung di dalam hatinya. Kebutaan fisik yang dialaminya selama tiga hari menjadi masa hening bagi Paulus untuk merenung, membiarkan teguran ilahi menyingkapkan kekeliruan langkah hidupnya selama ini. Dia tidak menolak atau membela diri saat dikritik oleh Tuhan, melainkan memilih untuk taat dan bertobat sepenuhnya. Renungan ini mengajak kita untuk belajar seperti Paulus: berani membuka hati, mau mendengarkan bisikan serta teguran Tuhan dalam hati sanubari kita, dan bersedia dibentuk kembali oleh-Nya agar hidup kita pun dapat dipakai menjadi alat warta kasih-Nya bagi sesama. Maka, belajar dari kisah Santo Paulus ini hendaknya semakin menyadarkan kita bahwa mendengarkan sesama kita atas “Nasihat dan Kritik” dengan kasih itu berarti kita pun mendengarkan suara Tuhan secara nyata.

 

Mewujudkan Diri sebagai Murid Kristus yang Mendengarkan “Nasihat dan Kritik” dengan Kasih

Sebagai penutup, mewujudkan diri sebagai murid Kristus yang sejati menuntut kita untuk memiliki kerendahan hati dalam mendengarkan "nasihat dan kritik" yang hadir dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Sama seperti Paulus yang membiarkan teguran Tuhan meruntuhkan kesombongannya dan mengarahkan kembali jalan hidupnya, kita pun dipanggil untuk tidak menutup telinga terhadap suara Tuhan yang sering kali hadir melalui teguran nurani maupun masukan dari sesama. Ketika kita bersedia membuka diri, melunakkan hati yang keras, serta mau diajar dan diperbaiki oleh kasih-Nya, di situlah kita sungguh-sungguh bertumbuh dalam iman dan siap diutus menjadi pembawa damai serta pewarta kasih Kristus yang nyata bagi dunia. Marilah kita semua umat beriman Kristiani, secara khusus di Paroki St. Paulus Juanda untuk hidup didalam Panca Indera yang penuh kasih, sehingga kita mampu mendengarkan dengan kasih dan mewujudkan diri sebagai murid Kristus yang sejati, mendengarkan suara Tuhan dan sesama atas nasihat serta kritik yang membangun diri kita lebih baik dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat di Tanah Air tercinta kita ini. (Eka Satria)

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI 
 

Kembali ke Daftar Artikel

Tentang Kami

Gereja Santo Paulus yang bernama resmi Gereja Paroki Santo Paulus, Juanda adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Paulus. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Surabaya

Alamat

Jl. Raya Bandara Juanda No.10, Semambung, Kec. Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61254

© 2026 Komsos Paroki St. Paulus - Juanda