Belajar Mengampuni sesulit itukah

Eka Satria
Sabtu, 19 September 2026
45 views
Belajar Mengampuni sesulit itukah

Pengampunan yang tak terhingga ini disampaikan Yesus dalam Matius 18:21–22 mengajarkan bahwa memberikan “Pengampunan 70 x 7 kali” dengan maksud untuk kita tidak perlu memperhitungkan hal pengampunan ini. Yesus meruntuhkan batasan manusiawi dalam mengampuni dengan menegaskan bahwa pengampunan tidak boleh dihitung secara matematis. Angka tujuh puluh kali tujuh kali bukanlah formula kaku berjumlah 490 kali, melainkan lambang dari kepenuhan dan sikap hati yang terus-menerus mau mengampuni tanpa syarat. Ketika kita digerakkan untuk membatasi pengampunan, Yesus mengingatkan bahwa kita sendiri telah menerima pengampunan yang tak terhingga dan tak ternilai harganya dari Allah. Oleh karena itu, mengampuni sesama bukanlah tentang seberapa sering mereka pantas menerimanya, melainkan tentang mencerminkan kasih dan rahmat Allah yang tanpa batas di dalam hidup kita sehari-hari.

REMPA – Berproses dalam hidup hari ke hari memanglah tidak mudah menjadi murid Kristus. Rasa-rasanya setiap hari ada saja hal-hal yang membuat manusia berdinamika atas emosi pribadi yang naik-turun karena adanya situasi yang tidak bisa terprediksi. Setelah emosi semakin meningkat, disitulah suasana hati tidak memiliki kedamaian, sehingga orang lain mendapat dampaknya atau pelampiasan emosi itu.

Mungkin dalam situasi keluarga saat ini banyak sekali dari kita merasa hidup semakin berat, semakin merasakan bahwa salib yang kita miliki seperti bertambah besar atas segala aspek hidup yang ada, atau mungkin bagi mereka yang sedang mengalami kesendirian, merasakan hidup yang tidak mendukung dirinya untuk bisa merasakan rasanya bersama-sama dengan orang yang dicintai atau bahkan kehilangan orang yang dicintai menjadi faktor yang ada. Bisa jadi hal-hal ini terjadi dikarenakan kita menutup diri pada “pengampunan” sehingga berdampak buruk bagi hidup yang kita jalani.

Melihat situasi kehidupan yang semakin kacau ini seringkali membuat manusia semakin berfokus pada hal-hal individualis, rasa sosial yang kian semakin merosot membuat manusia tampak tidak memiliki rasa kemanusiaan yang baik, dari segi sosial, komunikasi, dan hal-hal lainnya. Hal ini juga merupakan perhatian bagi kita semua untuk menyadari “Apakah pengalaman luka akibat disakiti orang lain membuat manusia semakin jauh dengan sesama? Atau apakah kita manusia lebih memilih hidup tanpa pengampunan dan memilih “dendam” sebagai balasannya?”. 

Hari ini iman kita diterangi kembali oleh Injil Matius pada perikop “Perumpamaan tentang pengampunan”. Tuhan Yesus ingin menyampaikan sebuah pesan bagi kita, untuk kita mampu hidup di dalam pengampunan yang tiada henti-hentinya. Pertama-tama, kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, lalu tentang sebagaimana penciptaan manusia pertama kalinya, hingga kejatuhan manusia dalam dosa. Hal itulah yang membuat diri kita manusia ini tidak akan terlepas dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan dosa. Sekecil-kecilnya dosa, memiliki dampak yang besar bagi kita manusia untuk semakin jatuh dalam dosa yang berat. Pertanyaanya “apakah benar sesulit itu mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Atau jangan-jangan hati kita sudah terkunci untuk tidak bisa mengampuni?” bila memang benar adanya, untuk apa berdoa “dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” jika realitanya kita masih sulit mengampuni?”. 


 

“Pengampunan yang Tak Terhingga” versi Yesus Kristus

Pengampunan yang tak terhingga ini disampaikan Yesus dalam Matius 18:21–22 mengajarkan bahwa memberikan “Pengampunan 70 x 7 kali” dengan maksud untuk kita tidak perlu memperhitungkan hal pengampunan ini. Yesus meruntuhkan batasan manusiawi dalam mengampuni dengan menegaskan bahwa pengampunan tidak boleh dihitung secara matematis. Angka tujuh puluh kali tujuh kali bukanlah formula kaku berjumlah 490 kali, melainkan lambang dari kepenuhan dan sikap hati yang terus-menerus mau mengampuni tanpa syarat. Ketika kita digerakkan untuk membatasi pengampunan, Yesus mengingatkan bahwa kita sendiri telah menerima pengampunan yang tak terhingga dan tak ternilai harganya dari Allah. Oleh karena itu, mengampuni sesama bukanlah tentang seberapa sering mereka pantas menerimanya, melainkan tentang mencerminkan kasih dan rahmat Allah yang tanpa batas di dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam kehidupan bersama ayat dari Matius 18:21–35 ini mengingatkan kita bahwa Sebagai Umat Paroki St. Paulus Juanda yang hidup di tengah dinamika pelayanan, komunitas, dan keluarga, panggilan untuk mengampuni tanpa batas ini menjadi tantangan nyata yang kita hadapi sehari-hari. Gesekan antarumat dalam kepengurusan seksi, kesalahpahaman di lingkungan, hingga luka batin dalam rumah tangga kerap menggoda kita untuk menarik garis batas toleransi. Namun, di tempat kita bersekutu dan menimba sumber rahmat Ekaristi ini, kita diajak untuk melihat sesama bukan sebagai musuh yang harus dihakimi, melainkan sebagai saudara seiman yang sama-sama sedang berjuang. Dengan mempraktikkan pengampunan yang tak terhingga, Paroki St. Paulus Juanda bukan sekadar menjadi bangunan gereja, melainkan sungguh-sungguh hadir sebagai rumah belaskasih tempat kasih Kristus yang menyembuhkan dapat dirasakan oleh siapa saja.

Melalui kisah perumpamaan hamba yang tidak berbelas kasihan ini (Matius 18:23–34), Yesus menjelaskan alasan utama mengapa umat paroki St. Paulus Juanda dipanggil untuk mengampuni tanpa batas, karena kita sudah lebih dulu diampuni atas hutang dosa yang tak bisa kita bayar. Perbandingan antara utang yang sangat besar yaitu sepuluh ribu talenta dan utang yang jauh lebih kecil yaitu seratus dinar membuat kita sadar bahwa kesalahan atau luka yang dilakukan orang lain kepada kita tidak seberapa dibandingkan dengan kebesaran anugerah dan pengampunan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Jika kita hati keras dan menolak memaafkan orang beriman yang ada di sekitar kita atau dalam pelayanan kita, kita sedang membuang kasih Yesus secara sia-sia dan memanggil hukuman kepada diri sendiri. Pengampunan yang benar hanya bisa terjadi ketika kita terus memahami betapa besar rasa kasih sayang Allah yang telah membebaskan hidup kita.


 

Perintah Paulus “Saling Mengampuni” kepada Jemaat di Kolose

Paulus menulis surat Kolose saat sedang dipenjara di Roma setelah mendengar laporan dari Epafras tentang ancaman ajaran palsu yang berisiko memecah belah jemaat. Untuk menjaga kesatuan mereka dari perpecahan dan konflik internal, Paulus menasihati jemaat Kolose agar saling mengampuni, sama seperti Kristus yang telah lebih dulu mengampuni dosa-dosa mereka.

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kolose 3:13-14).

Kunci utama pengampunan terletak pada “kesadaran akan ketidaksempurnaan manusia dengan sesamanya, maka Cinta Kasih itulah yang menyatukan dan menyempurnakan manusia dalam keselamatan Allah”. Hal inilah yang disampaikan oleh Paulus untuk kita menjadi manusia baru yang mau memberikan pengampunan agar relasi sesama manusia menjadi utuh dan penuh kedamaian itu sehingga membawa kita pada nilai-nilai yang memenuhi kehidupan meng-Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang mewujudkan cinta kasih dan pengampunan. Cinta kasih tanpa pengampunan adalah hal yang sia-sia.

Menjadi Pribadi Pengampun yang seperti Yesus Kristus

Pada akhirnya, ketika Matius 18:21–35 Yesus mengajarkan pengampunan yang tak tehingga dan mengingatkan kita akan besarnya utang dosa yang telah dihapuskan oleh Sang Raja, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menahan ampunan bagi sesama. Kolose 3:13–14 menyempurnakannya dengan mengajak kita mempraktikkan pengampunan itu sebagai gaya hidup yang dibalut oleh kasih Kristus. Menjadi pribadi yang pengampun seperti Yesus berarti berani melepaskan ikatan dendam tanpa batas, bukan karena orang lain pantas mendapatkannya, melainkan karena kita telah lebih dahulu menerima belas kasih-Nya yang melimpah. Mari kita kenakan kasih itu setiap hari, mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni kita, agar hidup kita menjadi cermin nyata dari perdamaian dan kesatuan yang Kristus Yesus kerjakan bagi Gereja dan bagi dunia.




 

TUHAN YESUS MEMBERKATI


 

Kembali ke Daftar Artikel

Tentang Kami

Gereja Santo Paulus yang bernama resmi Gereja Paroki Santo Paulus, Juanda adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Paulus. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Surabaya

Alamat

Jl. Raya Bandara Juanda No.10, Semambung, Kec. Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61254

© 2026 Komsos Paroki St. Paulus - Juanda